Saling Melengkapi
Debat Capres Versi Indonesia
Rakyat boleh berharap bahwa demokrasi telah semakin menunjukkan
habitatnya di Indonesia. Hal ini, antara lain, ditandai dengan debat
calon presiden (Capres), kontestan Pemilu Presiden (Pilpres) 2009.
Walaupun ronde pertama Kamis 18/6 malam belum menyuguhkan aksi saling
sanggah antarkontestan. Tapi, setidaknya (mungkin) itulah debat Capres
versi Indonesia, tidak harus versi Amerika.
Debat Capres yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu
diikuti tiga peserta (Capres),
Megawati Soekarnoputri,
Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY), dan
Jusuf Kalla (JK). Debat ronde pertama bertema
mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih serta
menegakkan supremasi hukum. Dimoderatori Rektor Universitas Paramadina
Dr. Anies Baswedan, berlangsung dalam empat sesi di Studio Transcorp,
Jakarta, Kamis 18/6/09 malam.
Pada sesi pertama diberikan kesempatan kepada ketiga Capres menyampaikan
visi sesuai tema, masing-masing 10 menit. Sesi kedua, moderator
mengajukan pertanyaan yang sama kepada ketiga Capres, masing-masing
menjawab dalam dua menit. Sesi ketiga, moderator mengajukan satu
pertanyaan berbeda kepada masing-masing Capres yang dijawab selama dua
menit. Kemudian diberikan kesempatan satu setengah menit kepada Capres
lain untuk menanggapi. Setelah itu, diberi kesempatan durasi satu menit
lagi kepada Capres yang giliran ditanya untuk memberi tanggapan. Setelah
itu, sesi keempat, masing-masing Capres diberi waktu satu menit
menyampaikan kata penutup.
Pada sesi ketiga, sebenarnya terbuka peluang saling adu argumentasi
antarcapres. Namun, dalam debat pertama ini, tidak ada tanggapan yang
berbeda (perdebatan), tetapi pendapat yang saling melengkapi. Barangkali,
inilah formula baru debat Capres versi Indonesia.
Saat moderator mengajukan pertanyaan kepada Megawati berkaitan slogannya
“Mega Pro Rakyat" khususnya tentang apa yang akan dilakukan untuk
melindungi para tenaga kerja Indonesia (TKI) apabila terpilih sebagai
presiden. Megawati menjawab perlindungan kepada TKI harus diberikan
terlebih dahulu di dalam negeri, melalui pelatihan dan kontrak kerja
yang jelas, karena perlindungan setelah mereka berada di luar negeri
lebih sulit untuk dilakukan.
SBY yang mendapat giliran pertama menanggapi, menyatakan setuju 200%
dengan Megawati bahwa perlindungan harus terlebih dahulu dilakukan di
dalam negeri. “Saya setuju 200% dengan pandangan Ibu Megawati,” kata SBY,
lalu memberi tanggapan yang melengkapi tentang perlu perbaikan kerja
sama yang baik di luar negeri.
Begitu pula JK mengawali tanggapannya dengan kalimat:“Tentu saya
sependapat dengan Ibu Mega, karena itu saya lakukan juga ketika saya
jadi Menko Kesranya.'' Lalu JK melengkapi dengan menekankan perlu ada
MoU antarnegara dan lawyer di setiap kedutaan. Maka, ketika Megawati
diberi kesempatan untuk menanggapi kembali komentar dua pesaing, yang
mantan menterinya itu, dia tersenyum dan hanya berkata singkat: “Ya,
semua ngikut saya.” Megawati pun mengatakan:“Cukup!”
Nyaris tidak ada diferensiasi (perbedaan) pendapat antarcapres juga
terlihat saat SBY ditanya berkaitan slogannya “Lanjutkan!” khususnya
tentang kejahatan hak asasi manusia (HAM) masa lalu. Menurut SBY,
penyelesaian masalah HAM masa lalu tidak melulu masalah hukum. Karena,
dalam beberapa hal ada kerumitan tertentu untuk menyelesaikan dugaan
kasus HAM masa lalu. Maka, di masa pemerintahannya diusahakan
dimunculkan adanya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR).Namun, hal
itu tidak terwujud mengingat pembatalan UU KKR oleh Mahkamah Konstitusi.
Namun, menurut SBY, ada pilihan lain dalam penyelesaiannya. ''Truth and
reconsiliation , atau cara mirip itu bisa kita pikirkan bersama,”
katanya.
JK yang diberi kesempatan pertama menanggapi, langsung mengangguk. ''Tentu
saya setuju, karena saya masih wapres juga,'' katanya disambut tawa
hadirin. Namun, JK menambahkan perlunya melihat ke depan. ''Kalau lihat
ke belakang saja, lihat kaca spion saja, tidak bisa maju,'' katanya. JK
pun mengutip falsafah mandela: forgive but not forget.
Megawati yang terlihat lebih santai, juga memberi tanggapan yang
menghangatkan suasana. ''Kalau JK bilang setuju, saya oposisi juga
setuju,'' kata Megawati, seraya menegaskan, penegakan HAM tidak secara
individu, tapi diselesaikan secara berbangsa dan bernegara.
Hal yang sama juga berlangsung ketika giliran Jusuf Kalla diajukan
pertanyaan sesuai slogannya “Lebih Cepat Lebih Baik” khususnya tentang
upaya untuk memberantas pungutan liar. Kalla menjawab, harus ada standar
kinerja dan penilaian terhadap para birokrat yang sering terlibat
skandal pungli. JK menyatakan menyelesaikan pungli perlu target dan
performance. Misalnya, berapa lama penerbitan KTP, sehingga bila ada
pelanggaran akan ketahuan. ''Semua pelanggaran harus ada hukumannya,
baik administrasi, pidana, atau pemecatan,'' katanya.
Begitu pula Megawati menyatakan setuju dengan Kalla. ''He, he ...
menurut saya apa yang disampaikan oleh Pak Kalla, karena harus
mempertahankan slogan lebih cepat lebih baik,'' kata Megawati seraya
tersenyum. Yang diperlukan, kata Mega menambahkan, kembali ke
pembangunan mental bangsa. “Bila tidak, apa yang ingin dilakukan Pak
Kalla, mungkin berjalannya tak lebih cepat dari yang diinginkan.''
SBY menanggapi JK: “Saya setuju dengan Pak Jusuf Kalla. Pengawasan,
disiplin, serta mekanisme punishment and reward harus diterapkan.” Lalu
SBY menambahkan, sosialisasi harus jelas. “Saya berterima kasih kepada
Pak SBY dan Ibu Mega yang mendukung ucapan saya,” kata Kalla menanggapi.
Debat Bersahabat
Perdebatan yang bersahabat. Dalam artian, pemaparan pandangan dengan
saling melengkapi. Ketiga Capres terlihat saling menghormati. Apalagi
SBY dan JK tampak masih memandang Megawati sebagai senior. Maklum, SBY
dan JK, yang kini sedang menjabat presiden dan wakil presiden, pernah
menjadi pembantu presiden (Menko Polkam dan Menko Kesra) Megawati.
Acara debat Capres itu dimulai pukul 19.00. SBY datang lebih awal,
sekitar pukul 18.45 WIB dengan memakai batik merah. Disusul, Kalla
datang pukul 18.46 WIB dengan memakai jas hitam. Mega datang dua menit
kemudian, pukul 18.48. Ketiganya saling bersalaman saat berada di ruang
tunggu.
Debat itu disiarkan langsung Trans TV. Sayang, tidak disiarkan langsung
TVRI, KPU tak memberi penjelasan. Sesi penayangan iklan, sangat dominan
memotong-motong acara debat itu. Sangat terasa ada dominasi ekonomi
pasar dalam penyiaran acara debat Capres itu. Sesi iklan, sangat terasa
kurang pantas dan patut dalam acara seperti ini. Namun, sesi iklan itu
rupanya digunakan para Capres beristirahat dan berdiskusi dengan anggota
tim suksesnya.
Sesi pertama, tiap Capres memaparkan visi dan misi sesuai tema.
Megawati, dipersilakan moderator tampil lebih dulu. Ia tidak terlihat
memaparkan pandangannya dengan menggunakan teks. SBY yang tampil pada
giliran kedua, tampak dengan teks di tangannya. Lalu Jusuf Kalla
memaparkan visi juga tidak tampak menggunakan teks.
Masing-masing diberi durasi waktu 10 menit. Megawati dan SBY menyisakan
1 menit 30 detik dari alokasi waktu 10 menit. Sementara, JK menyisakan
sekitar 2,5 menit.
Megawati Soekarnoputri memaparkan visi dan programnya, yang antara lain
poin-poinnya sebagai berikut: (1). Prinsipnya harus merujuk pada amanat
konstitusi dan keinginan founding fathers. (2) Perlunya pembangunan
mental bangsa. (3) Menciptakan pemerintah yang melayani dan mengayomi
masyarakat, bukan melayani dirinya sendiri. (2) Menyelesaikan persoalan
tata pemerintahan yang baik, karena untuk mengurus KTP pun sangat sulit,
perlu waktu dan biaya mahal; (3) Melakukan reformasi birokrasi dan
memperbaiki kesejahteraan aparat pelayan publik, meningkatkan mental dan
moral aparat pemerintah agar jujur dan disiplin. (4) Mempertahankan
jalannya demokrasi dalam proses reformasi. (5) Menjamin kebebasan pers,
HAM seluruh warga bangsa dan penegakkan hukum.
Susilo Bambang Yudhoyono: (1) Melanjutkan tata kelola pemerintahan yang
baik (good governance) dan bersih (clean government). (2) Pengawasan dan
pencegahan KKN. (3) Mereformasi birokrasi di pusat dan daerah dan
meningkatkan kemampuan pejabat pemerintah (capacity building). (4)
Menegakkan supremasi hukum yang adil, transparan dan tidak pandang bulu,
dan mencegah anarki, kekerasan, dan hukum rimba. (5) Melanjutkan dan
meningkatkan penegakan HAM, memberi perlindungan kepada perempuan dan
anak-anak. (6) Menerapkan politik nondiskriminasi.
Jusuf Kalla: Untuk mencapai tujuan bangsa yang ada di konstitusi,
pemerintah, dari presiden sampai lurah, harus menggerakkan bangsa ini
melalui program: (1) Kemandirian ekonomi bangsa. (2) Pemerintah yang
mempunyai program, amanah, bersih, efektif, dan memiliki kemampuan SDM,
sistem dan prosedur. (3) Pemerintahan yang demokratis, sehingga efektif
dari bawah maupun dari atas. (4) Pemerintah harus melayani rakyat dengan
cepat, murah, dan transparan serta memiliki target waktu dan tujuan
dalam menyelesaikan masalah. (5) Pemerintah harus akuntabel dan mendapat
punishment and reward. (6) Hukum harus memberi keadilan, kepastian, dan
ketertiban bagi masyarakat.
Debat Capres 2009 berlangsung tiga ronde. Ronde kedua dilakukan pada 25
Juni 2009 dengan tema: "Mengentaskan kemiskinan dan pengangguran" dan
dimoderatori pengamat ekonomi, Aviliani MSc. Ronde ketiga, 2 Juli
bertema: "NKRI, demokrasi dan otonomi daerah", moderator Dekan Fisip UGM,
Prof Dr Pratikno.
Selain itu, juga diadakan Debat Cawapres dalam dua ronde. Ronde pertama,
18 Juni bertema: "Pembangunan jati diri bangsa," moderator Rektor UIN
Syarif Hidayatullah, Prof Komaruddin Hidayat. Ronde kedua, 30 Juni
bertema: "Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia." Moderator
Ketua Umum IDI, Dr dr Fachmi Idris. ► rbh
(19/06/09)
*TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|
|
|